Home Kolom Dosen Keutamaan Lailatul Qadar dan Ciri-cirinya.

Keutamaan Lailatul Qadar dan Ciri-cirinya.

728
0
SHARE

Keutamaan Lailatul Qadar dan Ciri-Cirinya.

Sobat. Lailatul Qadar, juga dikenal sebagai Malam Kebesaran atau Malam Takdir, adalah malam yang sangat istimewa dalam agama Islam. Dalam bulan Ramadan, yang merupakan bulan suci dalam agama Islam, terdapat malam yang dianggap lebih baik daripada seribu bulan lainnya. Malam ini diyakini sebagai waktu di mana Al-Quran pertama kali diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW.

Lailatul Qadar memiliki keistimewaan yang sangat besar dalam Islam, dan umat Muslim dianjurkan untuk menghabiskan malam ini dengan beribadah, memohon ampunan, berdoa, membaca Al-Quran, dan melakukan amal kebajikan. Karena tidak ada kepastian secara pasti kapan Lailatul Qadar jatuh dalam bulan Ramadan, umat Muslim dianjurkan untuk mencari malam tersebut pada sepuluh hari terakhir Ramadan, terutama pada malam ganjil, seperti malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29.

Allah SWT berfirman :

إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي لَيۡلَةِ ٱلۡقَدۡرِ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ خَيۡرٞ مِّنۡ أَلۡفِ شَهۡرٖ تَنَزَّلُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ بِإِذۡنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمۡرٖ سَلَٰمٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطۡلَعِ ٱلۡفَجۡرِ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. “( QS. Al-Qadar (97) : 1-5 )

Sobat. Terdapat empat tempat dalam Al-Qur’an yang menerangkan tentang penurunannya kepada Nabi saw yaitu:
1. Dalam Surah al-Qadr.
2. Dalam Surah ad-Dukhan, yaitu pada firman-Nya:

ha Mim. Demi Kitab (Al-Qur’an) yang jelas, sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan. Pada (malam itu) dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan dari sisi Kami. Sungguh, Kamilah yang mengutus rasul-rasul, sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (ad-Dukhan/44: 1-6)

3. Dalam Surah al-Baqarah, yaitu pada firman-Nya:

Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). (al-Baqarah/2: 185)
4. Dalam Surah al-Anfal, yaitu pada firman-Nya:
Dan ketahuilah, sesungguhnya segala yang kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak yatim, orang miskin dan ibnu sabil, (demikian) jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqan, yaitu pada hari bertemunya dua pasukan. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (al-Anfal/8: 41)

Ayat Surah al-Qadr menyatakan bahwa turunnya Al-Qur’an dari Lauh Mahfudh ke Baitul-‘Izzah jelas pada malam Lailatul Qadr. Ayat Surah ad-Dukhan menguatkan turunnya Al-Qur’an pada malam yang diberkahi, ayat Surah al-Baqarah menunjukkan turunnya Al-Qur’an pada bulan Ramadan. Sedangkan Surah al-Anfal/8: 41 di atas menerangkan penyelesaian pembagian rampasan perang pada Perang Badar. Perang ini disebut yaumul-furqan karena merupakan pertempuran antara tentara Islam dengan tentara kafir, di mana kemenangan berada di tangan tentara Islam.

Dalam ayat ini diungkapkan bahwa Allah menurunkan Al-Qur’an pertama kali kepada Nabi saw pada malam yang mulia. Kemudian diturunkan terus-menerus secara berangsur-angsur menurut peristiwa dan suasana yang menghendakinya dalam jangka waktu dua puluh dua tahun lebih sebagai petunjuk bagi manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat nanti.

Sehubungan dengan uraian di atas, para ulama mengatakan bahwa kata anzala dan nazzala berbeda penggunaan dan maknanya. Oleh sebab itu, makna anzalnahu dalam Surah al-Qadr menunjukkan turunnya kitab suci Al-Qur’an pertama kali dan sekaligus dari Lauh Mahfudh ke langit dunia. Kemudian diturunkan berangsur-angsur dari langit dunia kepada Nabi Muhammad, yang dibawa oleh Malaikat Jibril selama 22 tahun, 2 bulan dan 22 hari. Sedangkan makna nazzala bermakna diturunkan berangsur-angsur.
Tidak diragukan lagi bahwa manusia sangat memerlukan Al-Qur’an sebagai pedoman yang menjelaskan sesuatu yang mereka ragukan dalam hal-hal yang berhubungan dengan soal-soal keagamaan atau masalah-masalah duniawi. Al-Qur’an juga menerangkan kepada mereka kejadian manusia dan kejadian yang akan datang ketika datangnya hari kebangkitan.

Manusia memerlukan pegangan tersebut karena tanpanya, mereka tidak dapat memahami prinsip-prinsip kemaslahatan yang sebenarnya untuk membentuk peraturan-peraturan dan undang-undang. Oleh sebab itu, benarlah pendapat yang menyatakan bahwa manusia tidak dapat melepaskan diri dari agama dan petunjuk rohani yang menentukan ukuran dan nilai sesuatu setelah mengetahui secara ilmiah keadaan dan khasiat sesuatu.

Kemudian dalam ayat ini, Allah menyatakan keutamaan Lailatul-Qadr yang tidak dapat diketahui oleh para ulama dan ilmuwan, bagaimanapun tingginya ilmu pengetahuan mereka. Pengertian dan pengetahuan Nabi-Nya pun tidak sanggup menentukan kebesaran dan keutamaan malam itu. Hanya Allah yang mengetahui segala hal yang gaib, yang menciptakan alam semesta, yang mewujudkannya dari tidak ada menjadi ada.

Pada ayat ini, Allah menerangkan keutamaan Lailatul-Qadr yang sebenarnya. Malam itu adalah suatu malam yang memancarkan cahaya hidayah sebagai permulaan tasyri’ yang diturunkan untuk kebahagiaan manusia. Malam itu juga sebagai peletakan batu pertama syariat Islam, sebagai agama penghabisan bagi umat manusia, yang sesuai dengan kemaslahatan mereka sepanjang zaman. Malam tersebut lebih utama dari seribu bulan yang mereka lalui dengan bergelimang dosa kemusyrikan dan kesesatan yang tidak berkesudahan. Ibadah pada malam itu mempunyai nilai tambah berupa kemuliaan dan ganjaran yang lebih baik dari ibadah seribu bulan
Sebutan kata “seribu” dalam ayat ini tidak bermaksud untuk menentukan bilangannya. Akan tetapi, maksudnya untuk menyatakan banyaknya yang tidak terhingga sebagaimana yang dikehendaki dengan firman Allah:

Masing-masing dari mereka ingin diberi umur seribu tahun. (al-Baqarah/2: 96).

Apakah ada malam yang lebih mulia daripada malam yang padanya mulai diturunkan cahaya hidayah untuk manusia setelah berabad-abad lamanya mereka berada dalam kesesatan dan kekufuran? Apakah ada kemuliaan yang lebih agung daripada malam di mana cahaya purnama ilmu makrifah ketuhanan menerangi jiwa Muhammad saw yang diutus sebagai rahmat untuk seluruh manusia, menyampaikan berita gembira dan ancaman serta memanggil mereka ke jalan yang lurus, menjadikan mereka umat yang melepaskan manusia dari belenggu perbudakan dan penindasan penguasa yang zalim di timur dan barat, dan mempersatukan mereka sesudah berpecah-belah dan bermusuh-musuhan?

Maka seyogyanya umat Islam menjadikan malam tersebut sebagai hari raya karena malam itu merupakan waktu turunnya undang-undang dasar samawi yang mengarahkan manusia ke arah yang bermanfaat bagi mereka. Penurunan ini juga memperbaharui janji mereka dengan Tuhan yang berhubungan dengan jiwa dan harta sebagai tanda syukur atas nikmat pemberian-Nya serta mengharapkan pahala balasan-Nya.
Dalam ayat ini, Allah menyatakan sebagian dari keistimewaan malam tersebut, yaitu turunnya para malaikat bersama Jibril dari alam malaikat sehingga tampak oleh Nabi saw, terutama Jibril yang menyampaikan wahyu. Penampakan Jibril kepada Nabi saw dalam rupanya yang asli adalah perintah Allah, setelah Ia mempersiapkan Nabi-Nya untuk menerima wahyu yang akan disampaikannya kepada manusia yang mengandung kebajikan dan keberkahan.
Turunnya malaikat ke bumi adalah dengan izin Allah, tidak perlu kita menyelidiki bagaimana cara dan apa rahasianya. Kita cukup beriman saja dengannya. Adapun yang dapat diketahui manusia tentang rahasia alam ini hanya sedikit sekali, sebagaimana diterangkan dalam firman Allah:

Sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit. (al-Isra’/17: 85)

Malam itu (Lailatul-Qadr) adalah hari raya umat Islam karena merupakan waktu turunnya Al-Qur’an dan malam bersyukur kepada Allah atas kebajikan serta kenikmatan yang dikaruniakan-Nya. Pada saat itu, malaikat ikut bersyukur bersama manusia atas kebesaran malam Qadar, sebagai tanda kemuliaan manusia yang menjadi khalifah Allah di muka bumi.

Di antara tanda-tanda Lailatul-Qadr adalah matahari terbit tanpa sinarnya yang memancar. Ibnu ‘Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda tentang Lailatul-Qadr:
Lailatul qadar adalah malam yang tenang dan cerah, tidak panas dan tidak dingin, serta matahari pada pagi harinya berwarna merah terang. (Riwayat Abu Dawud)

Dalam ayat ini, Allah menyatakan bahwa malam tersebut dipenuhi kebajikan dan keberkahan dari permulaan sampai terbit fajar, karena turunnya Al-Qur’an yang disaksikan oleh para malaikat ketika Allah melapangkan dada Nabi-Nya dan memudahkan jalan untuk menyampaikan petunjuk serta bimbingan kepada umatnya.

Keistemewaan dan Keutamaan Malam Lailatul qadar.

Malam Lailatul Qadar memiliki keutamaan dan keistimewaan yang sangat besar dalam agama Islam. Berikut adalah beberapa di antaranya:

1. Nilai Ibadah yang Luar Biasa: Amal ibadah yang dilakukan pada malam Lailatul Qadar memiliki nilai yang sangat besar di hadapan Allah SWT. Dikatakan bahwa ibadah yang dilakukan pada malam ini nilainya lebih baik daripada ibadah seribu bulan.
2. Momen Pengampunan: Malam Lailatul Qadar adalah waktu di mana pintu-pintu ampunan Allah SWT terbuka luas. Umat Islam dianjurkan untuk memohon ampunan, bertaubat, dan membersihkan diri dari dosa-dosa mereka.
3. Penentuan Takdir: Lailatul Qadar juga merupakan malam di mana takdir setiap individu untuk tahun yang akan datang ditentukan oleh Allah SWT. Oleh karena itu, banyak umat Islam menghabiskan malam ini dengan berdoa agar diberikan keberkahan, keselamatan, dan kesejahteraan dalam hidup mereka.
4. Waktu Turunnya Al-Quran: Malam Lailatul Qadar adalah malam di mana Al-Quran pertama kali diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, membaca, merenungkan, dan menghayati Al-Quran menjadi sangat dianjurkan pada malam ini.
5. Mengokohkan Iman dan Kesalehan: Melalui ibadah dan refleksi yang dilakukan pada malam Lailatul Qadar, umat Islam diharapkan dapat memperkuat iman mereka, meningkatkan ketaqwaan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dengan demikian, malam Lailatul Qadar merupakan waktu yang sangat istimewa bagi umat Islam di mana mereka dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah, berdoa, dan merenungkan makna dari kehadiran malam ini dalam kehidupan spiritual mereka.

Bagaimana Ciri-ciri Malam Lailatul Qadar menurut Hadits-Hadits Nabi.

Menurut hadits Nabi Muhammad SAW, terdapat beberapa ciri-ciri yang dapat menandakan keberadaan Malam Lailatul Qadar. Beberapa di antaranya adalah:

1. Ketenangan dan Kesejukan: Malam Lailatul Qadar biasanya terasa lebih tenang dan sejuk daripada malam-malam biasa.
2. Cahaya yang Berbeda: Beberapa riwayat menyebutkan bahwa malam Lailatul Qadar memiliki cahaya yang berbeda atau lebih bersinar daripada malam-malam biasa. Cahaya ini dapat terlihat bahkan di langit.
3. Keadaan Langit: Langit pada malam Lailatul Qadar sering kali tampak cerah dan tanpa awan.
4. Rasakan Khusyuk dalam Shalat: Saat melaksanakan ibadah shalat pada malam Lailatul Qadar, umat Islam dapat merasakan khusyuk yang lebih mendalam daripada biasanya.
5. Terjadi Hujan yang Berkah: Ada riwayat yang menyebutkan bahwa hujan yang turun pada malam Lailatul Qadar adalah hujan yang berkah, membersihkan dan memberi keberkahan kepada bumi.
Namun, perlu diingat bahwa tanda-tanda ini tidaklah mutlak atau pasti terjadi setiap tahun. Ada juga hadits yang menyatakan bahwa malam Lailatul Qadar sering kali disembunyikan oleh Allah SWT, sehingga tidak semua orang dapat mengetahuinya dengan pasti. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan berdoa pada sepuluh malam terakhir Ramadan, terutama pada malam ganjil, tanpa menunggu tanda-tanda khusus.

Amalan-amalan Ibadah yang layak kita lakukan bagi orang muslim yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
Sebagai seorang Muslim yang taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, terdapat berbagai amalan ibadah yang dianjurkan untuk dilakukan. Berikut adalah beberapa di antaranya:

1. Shalat: Melaksanakan shalat lima waktu secara teratur dan tepat waktu merupakan kewajiban bagi setiap Muslim. Selain itu, juga dianjurkan untuk memperbanyak shalat sunnah, terutama shalat sunnah rawatib sebelum dan sesudah shalat wajib.
2. Membaca Al-Quran: Membaca, mempelajari, dan merenungkan ayat-ayat Al-Quran merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan. Berusaha untuk mengamalkan ajaran dan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Quran juga sangat penting.
3. Berpuasa: Melaksanakan puasa wajib selama bulan Ramadan serta memperbanyak puasa sunnah di luar Ramadan adalah amalan ibadah yang sangat dianjurkan.
4. Memberikan Sedekah: Memberikan sedekah kepada yang membutuhkan merupakan amalan yang dianjurkan dalam Islam. Sedekah tidak hanya berupa harta, tetapi juga bisa berupa waktu, tenaga, atau kebaikan lainnya.
5. Mengerjakan Amal Kebaikan: Melakukan amal kebaikan seperti membantu sesama, mengunjungi orang sakit, menyantuni anak yatim, dan berbagai bentuk kebaikan lainnya merupakan bagian dari ibadah yang sangat dianjurkan.
6. Berzikir dan Berdoa: Memperbanyak dzikir kepada Allah SWT dan berdoa merupakan amalan ibadah yang penting bagi seorang Muslim. Berdoa untuk keselamatan, ampunan, keberkahan, dan petunjuk dari Allah adalah wujud dari ketergantungan dan kepatuhan kepada-Nya.
7. Menjaga Akhlak dan Etika: Menjaga akhlak yang baik, berlaku adil, jujur, dan berbuat baik kepada sesama merupakan bagian penting dari ibadah seorang Muslim.
8. Menunaikan Kewajiban Sosial: Menunaikan kewajiban sosial seperti berbakti kepada orang tua, menjaga hubungan silaturahmi, dan membantu membangun masyarakat merupakan amalan yang dianjurkan dalam Islam.
9. Meningkatkan Ilmu dan Pendidikan: Meningkatkan ilmu pengetahuan, baik agama maupun dunia, serta selalu berusaha untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang ajaran Islam adalah amalan yang sangat dianjurkan.
10. Tawakal kepada Allah SWT: Memiliki kepercayaan dan keyakinan yang teguh kepada Allah SWT serta berserah diri sepenuhnya kepada-Nya adalah salah satu aspek penting dalam ibadah seorang Muslim.

Tentu saja, daftar ini tidaklah menyeluruh, namun merupakan beberapa contoh amalan ibadah yang dianjurkan dalam Islam. Seorang Muslim yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya harus berusaha untuk memperbanyak amalan-amalan yang mendekatkannya kepada Allah SWT dan membawa manfaat bagi dirinya sendiri dan juga bagi orang lain.

( DR Nasrul Syarif M.Si. Penulis 30 Buku Mengenai Motivasi dan Pengembangan diri. Dosen Filsafat Pendidikan Pascasarjana UIT Lirboyo )